Monday, October 02, 2006

Gimana Caranya Berubah Ya Tuhan?

Semalam, bahkan hari-hari sebelumnya gw berdua dengan Inur; sahabatku, selalu ngobrol-ngobrol tentang hidup kita. Kebetulan kita berdua sama-sama anak yatim piatu dan nggak dapat peninggalan apa-apa dari ortu. Yang ada cuma beban yang sering kali bikin BT dan malu.
Bedanya, Inur menanggung 2 orang adiknya dan gw menanggung nenek gw yang sakit-sakitan itu tapi bandel karena nggak mau berhenti merokok!

Bisa dibilang, hidup kita sama-sama separuh nafas. Begitu gajian, uang habis buat bayar hutang. Sampe kita selalu bingung buat hidup besok, lusa, dan seterusnya. Tapi, gw selalu bilang, "Kalo dipikir bisa gila ya bow! Tapi kita selalu bisa melampaui hari-hari sampai akhir bulan."

Dulu sih, wakti gw kerja di media lain; berasa lebih lega karena bisa kas bon baik sama teman atau sama sekretaris redaksi atau sama bagian keuangan. Tapi, di kantor gw yang sekarang, nggak bisa. Susahnya minta ampun, padahal di sekeliling gw rata-rata orang kaya semua.
Kadang sedih juga, tapi gw pun selalu bilang sama Inur, "Sebenarnya, saat kita minta tolong sama orang lain; bukan ada uang apa nggak ada uang tapi mereka mau bantu kita apa nggak!"
Gw bisa bilang begitu karena ya begitulah adanya. Banyak orang yang mampu tapi mata hatinya buta, pelit atau apa lah alasan lainnya. Ada yang pas-pasan, tapi orang tersebut mau bantu walo sekedarnya.

Bahkan pekan lalu, saat gw mau pinjem uang sama salah satu bos gw; nggak dibantu tapi malah dijawab, "Aku nggak bisa ngajuin sumbangan buat kamu karena kamu kan masih baru di sini!"
What? Sumbangan? Perasaan gw mau pinjem uang deh bukan mengajukan sumbangan ke bos gw yang selanjutnya bos aku akan mengirimkan email ke semua teman kantor buat woro-woro nyumbang gw! Aduh, sampe kaget gw! Trus gw bilang aja, "Mbak, aku mau pinjem uang pribadi sama dikau bukan minta dikau untuk kirim email dan mintain sumbangan buat aku sama temen-temen." Dan bos gw itu ketawa, "Hehehee ...." Nggak tau juga maksudnya apaan. Tapi sudahlah ...

Inur dan beberapa teman gw lainnya, sering menggantungkan harapannya pada gw. Pasalnya, gw adalah orang penuh keberuntungan. Saat gw perlu dan udah kepepet banget, biasanya gw selalu dapat pertolongan. Dan seperti biasa, saat pertolongan itu hadir, gw nggak lupa berbagi pada teman-teman yang tadi menggantungkan harapannya pada gw, berapa pun itu. Simplenya gw cuma merasa, bahwa gw pun susah selalu ada yang bantu. Jadi gw harus bantu orang yang susah juga lah ...

Semalam, gw bilang sama Inur; "Gw capek bow, hidup begini trus. Stressnya banget! Kadang gw iri sama orang yang dapet warisan atau hidup berlebih atau hidup cukup tanpa tanggungan dan hutang."

Dan enak juga kalo punya saudara yang mau peduli sama kita. Tapi berdasarkan pengalaman sih, saudara jauh lebih nggak punya hati dibanding teman.

Ya kalo pun ada tanggungan juga nggak sampe nyusahin diri kita sendiri gitu. Cuma gimana ya caranya? Pikiran gokil gw ma Inur semalem sih, gimana caranya kita bisa dapet pinjeman duwit dalam jumlah besar buat nutupin semua hutang yang ada trus kita tinggal mencicil pinjaman yang besar itu tiap bulannya. Tapi, sama siapa? Lha wong minjem ratusan ribu aja susah kok apa lagi puluhan juta?

Trus gw teringat pada khotbah Pak Eriel, beberapa minggu lalu. Pak Eriel bilang, saat kita mau berubah, cukup berdoa dan bilang sama Tuhan, "Tuhan saya mau berubah."

Dan start tadi malam gw berdoa, "Tuhan aku mau berubah. Aku bosen sama hidupku yang begini terus. Caranya terserah Tuhan deh! Nggak ngerti gimana mulai berubahnya, gimana dapetin uang buat bayar semua hutang yang ada, gimana caranya kasih tau ke nenek gw biar dia mau berhenti merokok dan nggak sakit-sakitan lagi, gimana biar gw tiap hari bisa ke kantor dan balik lagi ke kosan, dan seterusnya ..."

Kadang, kalo lagi stress banget gw jadi kepengin mati biar nggak capek dan stress trus. Capek banget ... sumpah gw bosen sama hidup gw yang begini-begini trus.

Terakhir gw ke tempat nenek gw, Beliau bilang, "Aku udah nggak lama lagi." Dalam hati sih gw bilang, "Meninggallah, toh nggak ada juga yang gw harapkan darimu. Paling, saat Beliau meninggal gw harus berjuang buat menyiapkan peti mati, tanah kuburan dan tinggal membayar hutang-hutang pada dr. Santoso lalu selesailah penderitaan gw."

Itu terbersit di hati dan pikiran gw ya karena emang nggak ada apa pun yang gw tunggu dan akan diberikan pada gw. Nggak ada apa pun. Jadi yaa apa yang gw tunggu? Toh semakin lama Beliau hidup pun, gw beban gw makin berat.

Ga tau ah ... pusing banget mikirinnya. Jadi mendingan gw berdoa aja ... " Tuhan aku mau berubah, semoga Tuhan selalu memotivasi aku untuk semangat mencari uang yang banyak buat bayar semua hutang yang ada, semoga Tuhan menyiapkan diriku untuk menciptakan masa depan yang baik sesuai dengan yang Ia sediakan bagiku, semoga Tuhan juga menolongku untuk nggak selalu khawatir mengenai masa depanku, semoga Tuhan selalu bersamaku dengan semua mujizat yang aku perlukan untuk membawaku ke kehidupan yang lebih baik. Amin."

0 Comments:

Post a Comment

<< Home