Tuesday, June 20, 2006

ENOUGH ... I've a Limit

Banyak orang yang bilang kamu bukan buat aku. Tapi, aku mencintaimu, sungguh! Karena itu aku takkan pernah berhenti berharap. Ini adalah harga yang harus kubayar untuk sebuah cinta.
Kalau mau bilang aku banyak mengalah itulah kenyataannya. Sebenar-benarnya. Aku cuma bisa menerima kondisi yang sama sekali nggak masuk akal. Hubungan sepasang kekasih yang tanpa boleh aku berharap untuk bisa bersama lebih lama, bertemu lebih sering, bertanya seberapa besar rasa cintamu, berjalan di tengah keramaian dan didengarkan dengan segenap hatimu ...

Aku sudah mencintaimu dengan tulus. Aku sudah memberikan cintaku tanpa menuntut kembali. Aku selalu menyediakan diri untuk membahagiakanmu tanpa syarat.

Kini, aku termanggu. Mataku nanar menerawang. Tersirat tegas kepedihan, keputusasaan dan kemarahan. Semua itu kepedihan, keputusasaan dan kemarahan atas nama cinta.

Bolehkah jika aku berkata Tuhan tidak adil kepadaku? Tapi kok Tuhan disalahin ya? Padahal Tuhan udah sedemikian baik padaku. Tapi, kenapa ya Tuhan mengizinkan aku untuk bertemu denganmu 3 tahun lalu? Kenapa Tuhan juga membiarkan kamu memasuki kehidupanku? Dan kenapa Tuhan meletakkan cinta dalam hatiku untuk aku serahkan kepadamu?

Mungkin inilah yang disebut dengan jalan hidup. Paling ok, hidup mengalir saja seperti air. Dengan satu keyakinan apa pun yang aku alami dan tidak dapat aku ubah di situ ada rencana Tuhan yang indah.

Saat ini, aku cuma butuh waktu untuk berdamai dengan kenyataan dan teman yang dapat memahamiku, untuk bersama melewati saat-saat yang kurasa berat. Dalam tiap doaku, aku selalu bertanya, "Tuhan, diakah jodohku?" Aku mencintainya dan dia tak kan pernah mati. Kenapa dia selalu sibuk dengan urusannya sendiri Tuhan? Aku cuma ingin dia memahamiku juga, dia mendengarkanku saat aku berbagai beban. Tapi, sekecil apa pun yang kumau, tak pernah kudapat.

Sekarang, aku merasa bebanku makin berat. Banyak masalah yang harus aku selesaikan. Aku merasa kembali ke titik nol dan semua harus aku mulai lagi dari awal.

Tuhan, salahkah aku jika aku ingin berkata, "Enough ... because I've a limit, meski aku sangat mencintainya?"

Haruskah aku meninggalkannya dan lagi lagi mengingkari diriku sendiri bahwa aku tidak lagi mencintainya? Hanya karena masalah sepele; ia kurang mendengarkanku, ia kurang mengerti aku, ia terlalu sibuk, ia kurang melayani hatiku dan sebagainya?

Tuhan, aku ingin berdoa sekali lagi. Aku ingin bertanya, "Dia kah jodohku?" Jawablah doaku Tuhan, agar satu saat nanti bila aku menoleh ke belakang, aku tak kan kecewa sebab sekarang aku merasa semua sudah cukup, kesabaranku pun sudah tak bersisa lagi. Tapi, haruskah aku berpisah dengannya?

0 Comments:

Post a Comment

<< Home