Saturday, April 29, 2006

Sebulan Sudah ...

Kamu adalah sosok pria sempurna (bagiku). Kamu berkata apa adanya ... Kamu tampak tulus dan jujur. Kita memang banyak perbedaan; nggak heranlah karena kita juga dilahirkan, dibesarkan, dididik dan hidup di lingkungan yang berbeda juga kan? Tapi ... 3 tahun lalu, kita bertemu; saat percakapan kita berlanjut, aku berpikir mungkin kamu pria yang Tuhan sediakan untukku ..., karena malam itu tampak berbeda. Kita ngobrol, tertawa dan aku merasa nyaman bersamamu. Dalam banyak hal, aku merasa seolah-olah sudah mengenalmu bertahun-tahun.

Saat itu, akhirnya aku menyadari kamu tertarik untuk mengenalku lebih lanjut. Walau waktu kita untuk bertemu nggak banyak, kita tak lupa saling ber-sms dan telp setiap hari. Kita selalu meluangkan waktu. Saat valentine dan hari ulang tahun kita. Bersamamu, aku menemukan cinta baru dalam hidupku.

Tapi, setiap kali kita berbicara masalah kepercayaan dan tentang orang tua, aku selalu gelisah. Andai aku berkata, aku bersedia ikut denganmu ... karena di sana pula tempat ku yang dulu, tapi masalahnya pun belum selesai. Aku paham lah ... semua orang tua ingin anaknya mendapatkan yang terbaik bagi anaknya. Dan aku tahu, aku bukan orangnya. Selain itu, kamu juga bukan seorang pejuang cinta seperti aku dulu; di mana aku mempertahankan cintaku walau akhirnya pun aku nggak dapat apa-apa.

Sepanjang 3 tahun bersama, 3 kali pula kita putus sambung. Dan (mungkin) akhirnya ... kita memang harus berpisah ... Sebulan sudah kamu tanpa kabar. Entah di mana kamu berada. Tahun ini, aku ulang tahun sendirian, tanpa kamu. Aku tahu, kamu merencanakan kunjungan. Tapi pada tanggal yang telah dijadwalkan, kamu tidak datang. Ponselmu pun membisu. Saat aktif, kamu nggak mau menjawab telponku. Apa salahku? Rasanya aku masih memastikan jam berapa kamu akan berangkat dan kamu bilang malam ini.

Untungnya, aku sudah terbiasa dengan hubungan yang mengecewakan. Saat ini, keadaanku sama sekali jauh dari baik. Aku nggak bisa mempercayai semua ini. Kamu tahu luka hati ini amat menyakitkan.

Tuhan, bolehkah aku bertanya kenapa Engkau mengizinkan aku merasakan kepedihan ini lagi? Apakah 1 hubungan ini telah terputus? Tuhan, mengapa aku begitu bodoh sehingga berharap terlalu banyak dari hubungan ini? Tak satu pun hubunganku di masa lalu yang berhasil? Mengapa aku berpikir bahwa hubungan yang 1 ini berbeda? Tuhan, bantu aku untuk mengingatkan diriku untuk menjaga hatiku. Ingatkan aku bahwa mereka hanya ingin berteman; bukan ingin menjalin hubungan denganku. Aku capek Tuhan, bila setiap kali harus mengalaminya lagi ... aku capek kalau selalu harus membuat pengingkaran diri bahwa aku mencintai dan membutuhkan seseorang. Aku begitu letih dan lelah menghadapi emosi yang turun naik akibat putus hubungan. Aku betul-betul ingin menyerah. Aku merasa terluka, sendiri dan tertekan ...

Tuhan, sebulan sudah aku tak mendengar kabar darinya. Apakah ia baik-baik saja? Apakah sekarang memang waktunya aku harus berpisah dengannya dan merelakan ia pergi dari kehidupanku?

Air mata ku mulai mengalir dan aku berkata pada diriku sendiri, "Lady, kamu baik-baik saja ... dan akan selalu baik-baik saja!"

Tuhan, aku pernah berdoa ... aku minta Engkau menjadikannya diriku walau sesaat agar ia merasakan apa yang aku rasakan. Ampunilah aku Tuhan. Sekarang, aku hanya memohon agar Engkau melindunginya, menjaganya juga mengampuni segala kesalahannya. Mungkin, aku bukan orang yang tepat untuknya, tapi ia lelaki terbaik yang pernah memasuki kehidupanku. Tuhan, banyak hal yang ingin aku katakan padanya. Tapi, rasanya nggak mungkin.

Sebulan sudah dia berdiam diri, sementara aku berharap dapat berbicara dengannya. Sebulan sudah engkau melupakanku, sementara aku merindukanmu. Sebulan sudah kamu menjauhiku, sementara aku merasa amat dekat.

Aku tahu, kamu pasti bingung. Jangan bingung, ikuti saja apa kata hatimu. Aku akan baik-baik saja, karena aku sudah terbiasa merasa hidupku akan berhenti saat perpisahan, saat kehilangan orang-orang yang aku cintai ...

0 Comments:

Post a Comment

<< Home