Wednesday, April 12, 2006

Di Doa Ibuku Namaku Disebut???

Dari dulu, gw suka banget sama lagu ini. Dan, setiap gw denger lagu ini, gw pasti sedih. Sedih banget bahkan! Seneng banget ya, kalo aja gw sempet ngerasain seperti apa yang lagu itu ceritain. Tapi, sayangnya ... gw nggak pernah ngerasain; jadi gw nggak tahu juga apa dalam doa Ibu gw (dulu waktu Beliau masih ada), nama gw disebut apa nggak. Soale, kenal aja sama Ibu gw, nggak!

Di waktuku masih kecil, gembira dan senang
Tiada duka kukenal, tak kunjung mengerang
Di sore hari nan sepi, Ibuku bertelut
Sujud berdoa, kudengar ada namaku disebut
Di doa Ibuku, namaku disebut
Di doa Ibu kudengar, ada namaku disebut
Seringlah kini kukenang, di masa yang berat
Di kala hidup mendesak dan nyaris kusesat
Melintas gambar Ibuku, sewaktu bertelut
Kembali sayup, kudengar ada namaku disebut
Di doa Ibuku, namaku disebut
Di doa Ibu kudengar, ada namaku disebut
Sekarang dia telah pergi, ke rumah yang tenang
Namun kasihnya padaku, selalu kukenang
Kelak di sana kami pun, bersama bertelut
Memuji Tuhan yang dengar namaku disebut
Di doa Ibuku, namaku disebut
Di doa Ibu kudengar, ada namaku disebut
Kadang, saat gw lagi sendiri dan bener-bener merasa sendiri ...; gw juga kepengin mengingat kenangan manis waktu sama Ibu gw. Sayangnya, gw bener-bener nggak inget apa-apa. Saat lagi penat dan berbeban, gw kepengin pulang! Tapi gw bingung juga mo pulang ke mana?
Kembali ke rumah nenek gw? Rumah nenek gw bukan lagi tempat yang nyaman untuk pulang. Dan ternyata, pulang itu nggak sama dengan kembali.
Di mana pun, yang namanya pulang musti ke tempat di mana kita bisa berteduh, nyaman, aman dan penuh kehangatan. Gw jadi makin sadar, bahwa semua itu nggak akan pernah gw temui karena gw nggak pernah punya tempat pulang di mana gw bisa berteduh, nyaman, aman dan penuh kehangatan.
Kadang gw iri sama temen-temen gw, karena mereka bisa kapan aja pulang untuk mendapatkan kedamaian dari Ibu mereka, orang tua mereka, orang-orang yang mencintai mereka ...
Tapi gw inget pesan Arba'i (dia seorang dari masa lalu gw, yang masih sangat berarti, hingga kini); "Seharmonis apa pun keluarga temanmu yang kamu lihat, pasti mereka punya masalah. Jadi, jangan iri sama mereka. "
Pesannya masih tetap gw inget sampe sekarang. Tiap gw inget pesan itu, gw kembali semangat dan memandang hidup gw sebagai rahmat dan anugerah yang indah banget dari Tuhan.
Gw cuma bisa menyadari, bahwa inilah garis hidup gw. Tuhan udah membuatkan musik yang baik untuk gw dan gw cuma dituntut kreatif memainkan musik itu supaya menjadi indah. Kalo gw diam, Tuhan kecewa karena musiknya nggak gw lagukan.
Kadang juga, gw sering merasa dipojokkan dengan berbagai pertanyaan yang menyudutkan gw. Nggak jadi soal betapa baiknya maksud si penanya, tapi gw merasa amat tertekan!
Banyak orang yang menilai diri kita = apa yang kita lakukan, apa jabatan kita, kita itu anak siapa; yang seolah-olah embel-embel tadi udah mencerminkan siapa diri kita. Padahal, menurut gw itu salah besar. Apa yang kita lakukan, nggak sama dengan siapa diri kita. Kita sebagai pribadi jauh memiliki arti yang lebih tinggi dari sekedar jabatan yang kita duduki dalam hidup kita ini.
Tapi, menjalin hubungan-hubungan dengan orang lain kadang susah. Karena gw nggak bebas buat ngasih batasan tentang diri gw terpisah dari hubungan-hubungan itu. Orang lebih memandang seseorang karena dia anaknya tuan dan nyonya anu, dibanding memandang anak itu sebagai pribadinya sendiri.
Andai makin banyak orang yang nggak terbuka dalam menjalin hubungan-hubungan dengan orang lain, tentunya makin kasihan deh diri gw! Karena gw nggak bisa mempertontonkan bahwa gw anak dari tuan dan nyonya anu, karena gw yatim piatu.
Sebagian orang lagi, meremehkan karena gw nggak cantiklah, gw gendutlah, gw juteklah, dll. Herannya, kenapa justru orang lain yang merasa resah dengan keadaan gw? Sementara gw berorientasi ke luar dan nggak risau dengan kekurangan-kekurangan yang gw miliki. Tapi, banyak orang yang "memaksa" gw memakai topeng, hanya untuk menunjukkan gw pantas dihargai seperti layaknya mereka. Sebenernya yang salah siapa ya???
Yaa ..., gw emang nggak secantik cewek lain, gw juga nggak langsing seperti cewek lain, gw juga nggak cukup ramah dengan orang-orang yang baru gw kenal dan seabreg kekurangan gw lainnya. Tapi, gw cuma bisa bilang kalo gw cukup pandai mengasah talenta yang Tuhan kasih ke gw. Sehingga gw bisa melakukan banyak hal yang orang lain nggak bisa lakukan. Banyak juga kok, temen-temen gw yang tidak memanfaatkan talenta yang ada. Entah karena tuntutan hidup gw yang cukup besar sehingga gw jauh lebih rajin mengasah talenta itu, ya nggak tahu juga.
Kadang, saat ada orang yang memuji gw; dengan seabreg talenta yang gw punya, gw cuma bisa senyum. Kadang gw juga suka berpikir, kok gw bisa ya? Sehebat itukah gw? Lalu, gw kembali bersyukur; karena Tuhan memang lebih tau yang terbaik buat gw. Mungkin, karena gw harus mengarungi kehidupan ini sendirian, maka gw dikasih talenta yang cukup banyak untuk gw manfaatkan agar bertahan hidup. Mungkin juga, ini karena doa Ibu gw (yang gw nggak pernah tahu), agar gw diberi talenta dan anugerah besar hingga cukup bekal untuk hidup.
Gw pikir, yang baik hidup ini mengalir aja! Gw yakin, apa pun yang gw alami dan nggak bisa gw ubah, di sana ada rencana Tuhan buat gw. Kalo ibarat kesenian wayang, gw itu wayang dan Tuhan dalangnya. Jadi, hidup gw udah diatur! Gw cuma tinggal ngejalanin aja! Saat bahagia datang, ya gw nikmati ... saat kepedihan yang hadir, gw cuma butuh waktu buat bisa berdamai dengan kenyataan yang nggak gw maui, hingga 1 saat bila gw menoleh gw pasti nggak akan pernah kecewa dan gw nggak perlu lagi bertanya, di doa Ibuku namaku disebut?

0 Comments:

Post a Comment

<< Home